pos giv

Harta dan anak adalah ujian

Diposting oleh Unknown | 22.17 | | 0 komentar »
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS 63 ayat 9)


Dengan panggilan iman yang begitu sejuk di hati Allah mengingatkan hamba-Nya , jangan sampai harta , dan anak anak termasuk perniagaan yang secara fitrah menjadi kebangaan melalaikan kita dari dzikir , artinya ingat  untuk selalu menerapkan aturan Allah.

Harta dan anak bukan Cuma sekedar kebangaan  yang mampu menaikkan gengsi serta nilai pandang dari orang lain, bahkan mampu menaikkan strata sosial seorang hamba, namun lebih penting dari itu keduanya adalah amanah ,yang kelak akan di minta pertanggung jawabannya , sebagai konsekwensi dari kita mengambil manfaat keduanya.

Kelalaian kita dalam mengelola amanah , yang melenceng dari manajemin ilahi akan menjadikan perniagaan kita dengan Allah berpotensi rugi besar .. rentang waktu kebahagiaan kita menikmati dari gemilaunya harta, menikmati kebangaan dengan anak anak yang menaikkan nilai strata sosial di mata manusia , sangat tak sebanding dengan akibat yang Akan Allah timpakan sebagai balasan kelalaian dan kegagalan kita dalam mengelola amanah Allah, itulah yang Allah maksud “rugi . bahkan boleh jadi kerugian kita bukan hanya di akherat kelak namun Allah akan mulai tampakkan di akhir akhir hidup kita.

Harta yang tak lagi dapat membahagiakan , ketika badan mulai di hinggap berbagai penyakit , maka tak dapat kita nikmati lagi.

Anak anak yang jauh dari agama , tak mengenal makna berbhakti , tak dapat hadir di sisi pembaringan saat orang tua membutuhkan kehadirannya di akhir akhir hidupnya .

Puncaknya hartapun menjadi sengketa dari anak anak, dan keduanya menjadi musuh

Dua amanah , yang ketika kita lalai mengelolanya . menjadi penghartar ke neraka.... naudzu billah , tsumma naudzu billah min dzalik.

TAHAPAN MENERIMA ILMU

Diposting oleh Unknown | 19.16 | | 0 komentar »
“sesungguhnya kalian akan mendaki tingkat demi tingkat (al-inshiqaqq 19)
Dalam dakwah ada kata yang begitu familiar , akrab di dengar, yakni “Tabligh dan Taklim , secara lughat tabligh berarti menyampaikan adapun taklim artinya  belajar.

Bahasan dalam tabligh adalah bahasan yang bersifat global adapun taklim lebih spesifik..

Dalam kajian tarbiyah, Tabligh lebih bersifat promosi , sebagaimanaa layaknya sebuah promo maka sebuah produk hanya akan dijelaskan secara global dan simpel mulai dari cara pakai maupun kasiatnya. 

Pernahkah menonton iklan sebuah obat ? begitu di minum saat itu tak lama kemudian sembuh..

Tidak dijelaskan aturan pakainya, dari dosisnya , kapan di minumnya , berapa kali sehari , apa pantangan dan efek sampingnya , bagaimana penanganan manakala terjadi keracunan.

Maka ketika kita akan menggunakan obat tersebut datangi dokter spesialisnya
Begitu pula taklim , maka akan dijelaskan secara spesifik  tahap demi tahap.

Dalam tabligh dijelaskan manfaat dan akibat dari meninggalkan shalat , namun  tidak di bahas tata cara shalat . maka di taklimlah kita bisa mendapatkan pengetahuannya secara rinci.

Lalu apa hubungan tabligh dengan taklim ?

Tabligh mempromosikan sebuah amaliyah , bagi yang berminat  untuk mendalaminya, maka  cara mendapatkan kaifiyahnya, tempatnya ialah majlis taklim.

Mungkin kurang tepat memakai ayat di atas sebagai dasar, namun yang jelas dalm mencapai sesuatu kita harus mendaki tahap demi tahap , tidak berhenti di satu titik, lalu merasa cukup.

Allahu a'lam bissawab

ETIKA MENYAMPAIKAN PENDAPAT

Diposting oleh Unknown | 18.37 | | 0 komentar »
Di kisahkan Suatu malam seorang raja bermimpi istananya terbakar seluruh keluarganya di mulai dari isteri dan anaknya tewas terbakar terakhir dia melihat dirinya sendiri terbakar..


Pada pagi harinya sang raja menyuruh penasehatnya memanggil semua juru tafsir mimpi dan terpilihlah tiga orang penafsir mimpi yang sudah dipercaya akurasi tafsirnya.

Lalu raja menceriterakan mimpinya kepada ketiganya dan meminta satu persatu menafsirkan mimpinya  .

Yang pertama maju berkata “ ampun tuanku tuanku akan di bunuh beserta seluruh keluarga.

Rajapun marah dengan tafsir mimpinya , maka beliau memerintahkan untuk menghukum
bunuh penafsir tersebut.

Lalu yang kedua maju “ ampun tuanku , di kerajaan ini akan terjadi pemberontakan dari para penghianat negara , mereka dendam terhadap tuan , mereka akan menguasai kerajaan ini , dan sebagai pelampiasannya mereka akan membunuh satau persatu keluarga istana dimulai dari isteri , lalu anak anak paduka di depan tuanku , yang terakhir setelah mereka puas melampiaskan dendamnya , mereka akan membunuh paduka juga. Raja pun bertambah marah , penafsir yang kedua pun di hukum bunuh.

Maka majulah penafsir yang terakhir dia berkata “ tuanku berbahagialah , bahwa umur paduka lebih panjang dari umur isteri dan anak anak paduka.

Rajapun senang penafsir pulang dan diberi hadiah.

Inti dari tafsir dan apa yang akan dikatakan penafsir sebenarnya sama saja , yakni raja beserta seluruh keluarganya akan mati dalam sebuah pembrontakan , namun kepandaian mengolah kata dalam kalimat membuat nasibnya berbeda.

Yang pertama terlalu ringkas tapi menyakitkan

Yang kedua memang logis tapi panjangnya  cerita membuat alur rangkaian ceitera menjadi dramatis sehingga menakutkan dan menegangkan.

Yang ketika , ringkas namun menghadirkan harapan bahagia .

Ini hanyalah sebuah cerita,  namun hikmahnya cukup bagus , yakni pandai pandailah menyusun kata ketika menyampaikan sesuatu , mungkin maksudnya baik , lantaran tidak pandai menyusun kata malah menyakitkan si pendengar , biasakan terampil menyusun kalimat yang  santun , dan bisa menghadirkan senyum ..”Tabassanuka fi akhika laka shadaqatun (senyummu kepada saudaramu adalah sedekah) .. namun berartikah sebuah senyuman bila lawan bicara kita telah lebih dahulu tersakiti. maka menghadirkan ucapan yang menumbuhkan senyuman dan rasa bahagia itu (menurut saya) lebih tepat, dan itu butuh keterampilan dan pembiasaan.

Seorang guru yang  bijak  tidak akan mengumumkan anak muridnya yang belum bayaran , karena akan menimbulkan rasa malu , maka cukup ia menyampaikan terima kasih kepada yang telah melunasinya.