pos giv

Prilaku orang kafir terhadap al-Qur,an

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 01.36 | | 0 komentar »
Betapa banyak di antara kita saat taklim , saat belajar al-Qur,an tidak dilakukan dengan kusyu, tidak fokus , bertemunya kita dengan teman baru , dengan teman lama nyaris membuat kita abai kita sedang di mana , bersama siapa dan sedang apa , sehingga cengkrama kita , suara kita yang nyaris lebih terdengar dari suara guru menjadikan tempat kajian bukan lagi area  untuk mendapat ilmu.


Allah menggambarkan sikap orang kafir terhadap al-Qur,an , di mana mereka selalu membuat hiruk pikuk saat al-Qur,an di baca , di bahas , di tafsirkan makna maupun maksudnya , tujuannya agar yang belajar tidak mendapat manfaat apa pun dari al-Qur,an.

Semoga kita di jauhkan dari prilaku orang orang kafir yang Allah jelaskan melalui ayat-Nya .. aamiinn.

Menasehati apa memojokkan ?

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 20.06 | | 0 komentar »
Tawassaw bil haq tawassau bissabr. (saling berpesar dengan yang haq dan saling berpesan dengan kesabaran)
Saling menasehati adalah kewajiban seorang Muslim kepada muslim yang lain, tujuannya  untuk menjaga ‘ezzah atau kehormatan kaum muslimin agar terjaga dari perilaku munkar dan ucapan ucapan keji dan sia sia.

Al-haq (kebenaran) adalah prinsip dalam menyampaikan pesan adapun sabar adalah tahapan dan strategi agar pesan dapat diterima dengan simpatik bukan antipati

Namun sayang  al haq yang harus disampaikan kadang tidak diiringi dengan kesabaran , inginnya instan , inginnya langsung di fahami. Contohlah  rasulullah . ketika di dzalimi penduduk taif, dengan kesabaran dan doanya , pesan itu dapat terealisasi dan terwujud meski ketika beliau telah tiada.

Akhlaq adalah seni menyampaikan dakwah , seni untuk mengambil hati , seni untuk mendapat kepercayaan , seni mendapatkan simpatik, sehingga rasul mulia digelari “al-amin , sehingga musuhpun segan.

Karena boleh jadi , ketika kita menegur pelaku dosa yang kecil, lalu kita menghujat kesalahannya dengan argumen ayat dan haditz tanpa ahklaq yang baik , yang terjadi dosa kita karena salah dalam menyampaikan lebih besar ,

atau jangan jangan kita bukan menasehati tapi sedang memamerkan kepiawaian kita dalam memilah dan memilih ayat atau hadits yang sesuai dengan objek masalah, agar orang segan kepada kita. 

Naudzu billah tsumma naudzu billah , wa ‘eyyadu billah.

Harta dan anak adalah ujian

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 22.17 | | 0 komentar »
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS 63 ayat 9)


Dengan panggilan iman yang begitu sejuk di hati Allah mengingatkan hamba-Nya , jangan sampai harta , dan anak anak termasuk perniagaan yang secara fitrah menjadi kebangaan melalaikan kita dari dzikir , artinya ingat  untuk selalu menerapkan aturan Allah.

Harta dan anak bukan Cuma sekedar kebangaan  yang mampu menaikkan gengsi serta nilai pandang dari orang lain, bahkan mampu menaikkan strata sosial seorang hamba, namun lebih penting dari itu keduanya adalah amanah ,yang kelak akan di minta pertanggung jawabannya , sebagai konsekwensi dari kita mengambil manfaat keduanya.

Kelalaian kita dalam mengelola amanah , yang melenceng dari manajemin ilahi akan menjadikan perniagaan kita dengan Allah berpotensi rugi besar .. rentang waktu kebahagiaan kita menikmati dari gemilaunya harta, menikmati kebangaan dengan anak anak yang menaikkan nilai strata sosial di mata manusia , sangat tak sebanding dengan akibat yang Akan Allah timpakan sebagai balasan kelalaian dan kegagalan kita dalam mengelola amanah Allah, itulah yang Allah maksud “rugi . bahkan boleh jadi kerugian kita bukan hanya di akherat kelak namun Allah akan mulai tampakkan di akhir akhir hidup kita.

Harta yang tak lagi dapat membahagiakan , ketika badan mulai di hinggap berbagai penyakit , maka tak dapat kita nikmati lagi.

Anak anak yang jauh dari agama , tak mengenal makna berbhakti , tak dapat hadir di sisi pembaringan saat orang tua membutuhkan kehadirannya di akhir akhir hidupnya .

Puncaknya hartapun menjadi sengketa dari anak anak, dan keduanya menjadi musuh

Dua amanah , yang ketika kita lalai mengelolanya . menjadi penghartar ke neraka.... naudzu billah , tsumma naudzu billah min dzalik.

TAHAPAN MENERIMA ILMU

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 19.16 | | 0 komentar »
“sesungguhnya kalian akan mendaki tingkat demi tingkat (al-inshiqaqq 19)
Dalam dakwah ada kata yang begitu familiar , akrab di dengar, yakni “Tabligh dan Taklim , secara lughat tabligh berarti menyampaikan adapun taklim artinya  belajar.

Bahasan dalam tabligh adalah bahasan yang bersifat global adapun taklim lebih spesifik..

Dalam kajian tarbiyah, Tabligh lebih bersifat promosi , sebagaimanaa layaknya sebuah promo maka sebuah produk hanya akan dijelaskan secara global dan simpel mulai dari cara pakai maupun kasiatnya. 

Pernahkah menonton iklan sebuah obat ? begitu di minum saat itu tak lama kemudian sembuh..

Tidak dijelaskan aturan pakainya, dari dosisnya , kapan di minumnya , berapa kali sehari , apa pantangan dan efek sampingnya , bagaimana penanganan manakala terjadi keracunan.

Maka ketika kita akan menggunakan obat tersebut datangi dokter spesialisnya
Begitu pula taklim , maka akan dijelaskan secara spesifik  tahap demi tahap.

Dalam tabligh dijelaskan manfaat dan akibat dari meninggalkan shalat , namun  tidak di bahas tata cara shalat . maka di taklimlah kita bisa mendapatkan pengetahuannya secara rinci.

Lalu apa hubungan tabligh dengan taklim ?

Tabligh mempromosikan sebuah amaliyah , bagi yang berminat  untuk mendalaminya, maka  cara mendapatkan kaifiyahnya, tempatnya ialah majlis taklim.

Mungkin kurang tepat memakai ayat di atas sebagai dasar, namun yang jelas dalm mencapai sesuatu kita harus mendaki tahap demi tahap , tidak berhenti di satu titik, lalu merasa cukup.

Allahu a'lam bissawab

ETIKA MENYAMPAIKAN PENDAPAT

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 18.37 | | 0 komentar »
Di kisahkan Suatu malam seorang raja bermimpi istananya terbakar seluruh keluarganya di mulai dari isteri dan anaknya tewas terbakar terakhir dia melihat dirinya sendiri terbakar..


Pada pagi harinya sang raja menyuruh penasehatnya memanggil semua juru tafsir mimpi dan terpilihlah tiga orang penafsir mimpi yang sudah dipercaya akurasi tafsirnya.

Lalu raja menceriterakan mimpinya kepada ketiganya dan meminta satu persatu menafsirkan mimpinya  .

Yang pertama maju berkata “ ampun tuanku tuanku akan di bunuh beserta seluruh keluarga.

Rajapun marah dengan tafsir mimpinya , maka beliau memerintahkan untuk menghukum
bunuh penafsir tersebut.

Lalu yang kedua maju “ ampun tuanku , di kerajaan ini akan terjadi pemberontakan dari para penghianat negara , mereka dendam terhadap tuan , mereka akan menguasai kerajaan ini , dan sebagai pelampiasannya mereka akan membunuh satau persatu keluarga istana dimulai dari isteri , lalu anak anak paduka di depan tuanku , yang terakhir setelah mereka puas melampiaskan dendamnya , mereka akan membunuh paduka juga. Raja pun bertambah marah , penafsir yang kedua pun di hukum bunuh.

Maka majulah penafsir yang terakhir dia berkata “ tuanku berbahagialah , bahwa umur paduka lebih panjang dari umur isteri dan anak anak paduka.

Rajapun senang penafsir pulang dan diberi hadiah.

Inti dari tafsir dan apa yang akan dikatakan penafsir sebenarnya sama saja , yakni raja beserta seluruh keluarganya akan mati dalam sebuah pembrontakan , namun kepandaian mengolah kata dalam kalimat membuat nasibnya berbeda.

Yang pertama terlalu ringkas tapi menyakitkan

Yang kedua memang logis tapi panjangnya  cerita membuat alur rangkaian ceitera menjadi dramatis sehingga menakutkan dan menegangkan.

Yang ketika , ringkas namun menghadirkan harapan bahagia .

Ini hanyalah sebuah cerita,  namun hikmahnya cukup bagus , yakni pandai pandailah menyusun kata ketika menyampaikan sesuatu , mungkin maksudnya baik , lantaran tidak pandai menyusun kata malah menyakitkan si pendengar , biasakan terampil menyusun kalimat yang  santun , dan bisa menghadirkan senyum ..”Tabassanuka fi akhika laka shadaqatun (senyummu kepada saudaramu adalah sedekah) .. namun berartikah sebuah senyuman bila lawan bicara kita telah lebih dahulu tersakiti. maka menghadirkan ucapan yang menumbuhkan senyuman dan rasa bahagia itu (menurut saya) lebih tepat, dan itu butuh keterampilan dan pembiasaan.

Seorang guru yang  bijak  tidak akan mengumumkan anak muridnya yang belum bayaran , karena akan menimbulkan rasa malu , maka cukup ia menyampaikan terima kasih kepada yang telah melunasinya.

Suamiku milik ibunya

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 06.12 | | 0 komentar »

SUAMIKU MILIK IBUNYA"*
( Merinding bacanya )

Berpuluh kali membaca postingan ini, tidak akan bosan. Subhanallah...

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya.
Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah
pasti habis bertengkar lagi dengan  suaminya.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.
Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam.
Sarah kecewa karena suaminya telah membohongi Sarah selama ini.
Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil.
Sarah baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama.
Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.
Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??

Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.

*"Sarah...,*
*» Yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para MalaikatNya',*
*karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu"*
Kalimat ayah sontak membuat Sarah
kebingungan.
Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.

*» "Yang kedua,* *mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya.*
*Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu.*
*Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga.*
Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh".
Lanjut ayahnya.

"Sarah.., suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita.
Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama.
Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang
memilikinya".

"Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu.
Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu" mata ayah mulai berkaca-kaca.
*"Sarah...,*
*kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu.*

*Jika suamimu ridho pdmu,*
*maka Allah pun Ridho.*

*Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya.*
Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya.
Jangan sampai kamu menjadi
penghalang bakti suamimu kepada ibundanya".
*"Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibu nya".*
Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.
Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan.

• Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja.
• Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya.
• Bekerja untuk keluarga barunya.
• Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.
• Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.

"Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu.
Kenapa?
Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada
suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana.
Anak-anakmu pun tidak akan betah disana.
Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali".

"Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana.
Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?"
*"Uang itu diberikan untuk ibunya.* Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan.
Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu" lanjut ayah.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah.
Sarah juga sangat menjaga
penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa.
Berjalan-jalan setiap minggu di mall. Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.

Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan.
Tukang gorengan yang berhasil :
• Menjadikan suaminya seorang sarjana,
• mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang.
• Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.

"Ayaaah, maafkan Sarah", tangis sarah meledak.
Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.

*"Sarah...*
*• kembalilah ke rumah suamimu.*
*Ia orang baik nak...*
*• Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya.*
*• Bantu suamimu menggapai surganya,* *dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga".*

Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.

Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya.
Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.

Sarahpun pulang menghadap suaminya dan sambil menangis memohon maaf kpd suaminya atas prasangka yg salah selama ini.

Di lain hari, sarahpun mengikiti suaminya bersilaturahmi kpd ibu kandung suaminya alias mertua dirinya.

Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yg di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya.
Tetesan air mata suami bukan masalah jumlah liternya
tapi karena perubahan istrinya yg senang dan nampak ihlas hendak datang kpd orang tuanya alias mertua istrinya.

Seterusnya Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.
Sesekali waktu, Sarah bukan mengajak suaminya ke Mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya.
Subhanallah....

Kirimkan Kisah ini ke semua sahabat Anda, siapa tahu ada orang yang mau mencoba dan mengambil manfaat dari kisah ini, sehingga anda pun akan mendapatkan pahala.
Insya Allah...

🙏🙏
Semoga para istri tetap mendukung suaminya tuk berbakti pada Bu ibunya.