pos giv

Dakwah tidak instan

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 23.13 | | 0 komentar »
Rasulullah berlari bersama Zaid bin Hâritsah menghindari hujan lemparan batu dari penduduk Thaif yang menolak dakwahnya , darah segar mengucur dari tumit Rasul yang mulia sampai membasahi sandalnya , sehingga beliau tiba dan berlindung di balik tembok milik ‘Utbah dan Syaibah, dua orang putra Rabi’ah, yang terletak tiga mil dari kota Thâ’if. 

Ketika itulah rasulullah mengadu dengan doa yang panjang kepada Allah , agar penduduk Thaif kelak dijadikan diantara barisan orang orang beriman,

Maka Allah mengutus jibril , dan menawarkaan akan menghukum penduduk thaif dengan melemparkan gunung di atas mereka.

rasulullah menolak dan tetap mengharap keislaman penduduk Thaif , bila bukan mereka semoga keturunanya kelak . sehingga doa rasulullah kelak memang terkabul.

Dari sekelumit kisah ini kita dapat mengambil  ibrah , betapa dakwah itu tidak instan .

Betapa lembut dan piawainya rasul dalam berdakwah sebagai insan pilihan dan didikan wahyu, namun apa yang beliau sampaikan tidak mudah diterima begitu saja .

Ada dua pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini .

Pertama : tentu dakwah disampaikan adalah dakwatul haq , dimana yang disampaikan adalah sesuatu yang jelas sumbernya , sehingga mantap dalam menyampaikannya, karena itu berilmulah , kuasai materi dakwah yang akan kita sampaikan sebaik mungkin , siapkan argumen yang kuat sebagai hujjah ketika ada yang melecehkannya.

Kedua : sampaikan dengan sabar , sabar adalah strategi dalam berdakwah , rentang waktu nabi sebelumnya dengan masa nabi Muhammad begitu lama , sehingga kemurnian agama Allah banyak dinodai oleh tradisi jahiliyah , banyak hal hal yang ditambahkan dalam agama ini, bagi yang tidak faham akan menganggap hal tersebuat adalah bagian dari ajaran Islam , persis seperti benalu pada sebuah pohon , yang tidak mengerti akan menganggap itu bagian dari pohon , dimana lambat laun pohon itu akan mati, begitulah agama ini.

Terakhir , kekeliruan kita dalam berdakwah , ialah menganggap orang lain sama dengan kita , padahal latar belakang , budaya , lingkungan, keluarga teman dan pendidikan sangat berpengaruh terhadap respon objek dakwah.. boleh jadi tumbuh simpati atau malah antipati.

Karena itulah hindari meneguran dari sebuah kesalahan kecil apalagi memang tidak difahami oleh objek dakwah , ubah menjadi pendekatan , agar mereka merasa nyaman menerima kebenaran.

Prilaku orang kafir terhadap al-Qur,an

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 01.36 | | 0 komentar »
Betapa banyak di antara kita saat taklim , saat belajar al-Qur,an tidak dilakukan dengan kusyu, tidak fokus , bertemunya kita dengan teman baru , dengan teman lama nyaris membuat kita abai kita sedang di mana , bersama siapa dan sedang apa , sehingga cengkrama kita , suara kita yang nyaris lebih terdengar dari suara guru menjadikan tempat kajian bukan lagi area  untuk mendapat ilmu.


Allah menggambarkan sikap orang kafir terhadap al-Qur,an , di mana mereka selalu membuat hiruk pikuk saat al-Qur,an di baca , di bahas , di tafsirkan makna maupun maksudnya , tujuannya agar yang belajar tidak mendapat manfaat apa pun dari al-Qur,an.

Semoga kita di jauhkan dari prilaku orang orang kafir yang Allah jelaskan melalui ayat-Nya .. aamiinn.

Menasehati apa memojokkan ?

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 20.06 | | 0 komentar »
Tawassaw bil haq tawassau bissabr. (saling berpesar dengan yang haq dan saling berpesan dengan kesabaran)
Saling menasehati adalah kewajiban seorang Muslim kepada muslim yang lain, tujuannya  untuk menjaga ‘ezzah atau kehormatan kaum muslimin agar terjaga dari perilaku munkar dan ucapan ucapan keji dan sia sia.

Al-haq (kebenaran) adalah prinsip dalam menyampaikan pesan adapun sabar adalah tahapan dan strategi agar pesan dapat diterima dengan simpatik bukan antipati

Namun sayang  al haq yang harus disampaikan kadang tidak diiringi dengan kesabaran , inginnya instan , inginnya langsung di fahami. Contohlah  rasulullah . ketika di dzalimi penduduk taif, dengan kesabaran dan doanya , pesan itu dapat terealisasi dan terwujud meski ketika beliau telah tiada.

Akhlaq adalah seni menyampaikan dakwah , seni untuk mengambil hati , seni untuk mendapat kepercayaan , seni mendapatkan simpatik, sehingga rasul mulia digelari “al-amin , sehingga musuhpun segan.

Karena boleh jadi , ketika kita menegur pelaku dosa yang kecil, lalu kita menghujat kesalahannya dengan argumen ayat dan haditz tanpa ahklaq yang baik , yang terjadi dosa kita karena salah dalam menyampaikan lebih besar ,

atau jangan jangan kita bukan menasehati tapi sedang memamerkan kepiawaian kita dalam memilah dan memilih ayat atau hadits yang sesuai dengan objek masalah, agar orang segan kepada kita. 

Naudzu billah tsumma naudzu billah , wa ‘eyyadu billah.

Harta dan anak adalah ujian

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 22.17 | | 0 komentar »
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS 63 ayat 9)


Dengan panggilan iman yang begitu sejuk di hati Allah mengingatkan hamba-Nya , jangan sampai harta , dan anak anak termasuk perniagaan yang secara fitrah menjadi kebangaan melalaikan kita dari dzikir , artinya ingat  untuk selalu menerapkan aturan Allah.

Harta dan anak bukan Cuma sekedar kebangaan  yang mampu menaikkan gengsi serta nilai pandang dari orang lain, bahkan mampu menaikkan strata sosial seorang hamba, namun lebih penting dari itu keduanya adalah amanah ,yang kelak akan di minta pertanggung jawabannya , sebagai konsekwensi dari kita mengambil manfaat keduanya.

Kelalaian kita dalam mengelola amanah , yang melenceng dari manajemin ilahi akan menjadikan perniagaan kita dengan Allah berpotensi rugi besar .. rentang waktu kebahagiaan kita menikmati dari gemilaunya harta, menikmati kebangaan dengan anak anak yang menaikkan nilai strata sosial di mata manusia , sangat tak sebanding dengan akibat yang Akan Allah timpakan sebagai balasan kelalaian dan kegagalan kita dalam mengelola amanah Allah, itulah yang Allah maksud “rugi . bahkan boleh jadi kerugian kita bukan hanya di akherat kelak namun Allah akan mulai tampakkan di akhir akhir hidup kita.

Harta yang tak lagi dapat membahagiakan , ketika badan mulai di hinggap berbagai penyakit , maka tak dapat kita nikmati lagi.

Anak anak yang jauh dari agama , tak mengenal makna berbhakti , tak dapat hadir di sisi pembaringan saat orang tua membutuhkan kehadirannya di akhir akhir hidupnya .

Puncaknya hartapun menjadi sengketa dari anak anak, dan keduanya menjadi musuh

Dua amanah , yang ketika kita lalai mengelolanya . menjadi penghartar ke neraka.... naudzu billah , tsumma naudzu billah min dzalik.

TAHAPAN MENERIMA ILMU

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 19.16 | | 0 komentar »
“sesungguhnya kalian akan mendaki tingkat demi tingkat (al-inshiqaqq 19)
Dalam dakwah ada kata yang begitu familiar , akrab di dengar, yakni “Tabligh dan Taklim , secara lughat tabligh berarti menyampaikan adapun taklim artinya  belajar.

Bahasan dalam tabligh adalah bahasan yang bersifat global adapun taklim lebih spesifik..

Dalam kajian tarbiyah, Tabligh lebih bersifat promosi , sebagaimanaa layaknya sebuah promo maka sebuah produk hanya akan dijelaskan secara global dan simpel mulai dari cara pakai maupun kasiatnya. 

Pernahkah menonton iklan sebuah obat ? begitu di minum saat itu tak lama kemudian sembuh..

Tidak dijelaskan aturan pakainya, dari dosisnya , kapan di minumnya , berapa kali sehari , apa pantangan dan efek sampingnya , bagaimana penanganan manakala terjadi keracunan.

Maka ketika kita akan menggunakan obat tersebut datangi dokter spesialisnya
Begitu pula taklim , maka akan dijelaskan secara spesifik  tahap demi tahap.

Dalam tabligh dijelaskan manfaat dan akibat dari meninggalkan shalat , namun  tidak di bahas tata cara shalat . maka di taklimlah kita bisa mendapatkan pengetahuannya secara rinci.

Lalu apa hubungan tabligh dengan taklim ?

Tabligh mempromosikan sebuah amaliyah , bagi yang berminat  untuk mendalaminya, maka  cara mendapatkan kaifiyahnya, tempatnya ialah majlis taklim.

Mungkin kurang tepat memakai ayat di atas sebagai dasar, namun yang jelas dalm mencapai sesuatu kita harus mendaki tahap demi tahap , tidak berhenti di satu titik, lalu merasa cukup.

Allahu a'lam bissawab

ETIKA MENYAMPAIKAN PENDAPAT

Diposting oleh Mutiara azizah Tiara | 18.37 | | 0 komentar »
Di kisahkan Suatu malam seorang raja bermimpi istananya terbakar seluruh keluarganya di mulai dari isteri dan anaknya tewas terbakar terakhir dia melihat dirinya sendiri terbakar..


Pada pagi harinya sang raja menyuruh penasehatnya memanggil semua juru tafsir mimpi dan terpilihlah tiga orang penafsir mimpi yang sudah dipercaya akurasi tafsirnya.

Lalu raja menceriterakan mimpinya kepada ketiganya dan meminta satu persatu menafsirkan mimpinya  .

Yang pertama maju berkata “ ampun tuanku tuanku akan di bunuh beserta seluruh keluarga.

Rajapun marah dengan tafsir mimpinya , maka beliau memerintahkan untuk menghukum
bunuh penafsir tersebut.

Lalu yang kedua maju “ ampun tuanku , di kerajaan ini akan terjadi pemberontakan dari para penghianat negara , mereka dendam terhadap tuan , mereka akan menguasai kerajaan ini , dan sebagai pelampiasannya mereka akan membunuh satau persatu keluarga istana dimulai dari isteri , lalu anak anak paduka di depan tuanku , yang terakhir setelah mereka puas melampiaskan dendamnya , mereka akan membunuh paduka juga. Raja pun bertambah marah , penafsir yang kedua pun di hukum bunuh.

Maka majulah penafsir yang terakhir dia berkata “ tuanku berbahagialah , bahwa umur paduka lebih panjang dari umur isteri dan anak anak paduka.

Rajapun senang penafsir pulang dan diberi hadiah.

Inti dari tafsir dan apa yang akan dikatakan penafsir sebenarnya sama saja , yakni raja beserta seluruh keluarganya akan mati dalam sebuah pembrontakan , namun kepandaian mengolah kata dalam kalimat membuat nasibnya berbeda.

Yang pertama terlalu ringkas tapi menyakitkan

Yang kedua memang logis tapi panjangnya  cerita membuat alur rangkaian ceitera menjadi dramatis sehingga menakutkan dan menegangkan.

Yang ketika , ringkas namun menghadirkan harapan bahagia .

Ini hanyalah sebuah cerita,  namun hikmahnya cukup bagus , yakni pandai pandailah menyusun kata ketika menyampaikan sesuatu , mungkin maksudnya baik , lantaran tidak pandai menyusun kata malah menyakitkan si pendengar , biasakan terampil menyusun kalimat yang  santun , dan bisa menghadirkan senyum ..”Tabassanuka fi akhika laka shadaqatun (senyummu kepada saudaramu adalah sedekah) .. namun berartikah sebuah senyuman bila lawan bicara kita telah lebih dahulu tersakiti. maka menghadirkan ucapan yang menumbuhkan senyuman dan rasa bahagia itu (menurut saya) lebih tepat, dan itu butuh keterampilan dan pembiasaan.

Seorang guru yang  bijak  tidak akan mengumumkan anak muridnya yang belum bayaran , karena akan menimbulkan rasa malu , maka cukup ia menyampaikan terima kasih kepada yang telah melunasinya.