pos giv



Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).
Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh.
Mereka duduk sembari menyimak baik-baik huraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan.
Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau.
Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan?
Bukankah hari-hari ini kita sering mendapatkan penjelasan dari para trainer bahwa agar murid mau memperhatikan apa yang kita ajarkan, kita harus menyampaikan dengan cara yang fun, atraktif dan menggembirakan?
Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal.
Apa itu?
Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya.
Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.
Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan.
Mereka menerimanya.
Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan.
Jadi, bukan langsung menolaknya.
Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan.
Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya.
Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka.
Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan.
Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.
Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan.
Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan sungguh-sungguh menginginkan mereka menjadi baik.
Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua.
Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak.
Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat.
Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.
Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita?
Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:

ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَٰﻔًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮا۟ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮا۟ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).”
(QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut?
Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).
Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.

Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan.
Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan.
Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan.
Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat.
Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.
Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.
17 September 2014
Oleh: Ustd. Mohammad Fauzil Adhim
Silahkan baca artikel lainnya yang terkait dengan pos di atas

0 komentar

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda di bawah ini