pos giv

Tampilkan postingan dengan label Tausiah bagi orangtua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah bagi orangtua. Tampilkan semua postingan

Didiklah ia dengan tauhid dulu
.
Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkamul Maulud menjelaskan,
.
“Dia awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad rasulullah’ dan hendaklah sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga ajarkan kepada mereka bahwa Allah berada diatas Arsy-Nya, Dia senantiasa melihat dan mendengar perkataan hamba-Nya, dia senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”
.
sumber: muslimah.or.id
.
#taqwart #parenting #parentingislami #orangtua #tauhid #aqidah #tauhidanak #tauhidfirst

Do'a anak sholeh

Diposting oleh Unknown | 03.25 | | 0 komentar »

��✏��✏��✏��✏��✏ ========================

��Wahai saudaraku..
✅Taukah anda...? Salah satu amalan seseorang yg masih selalu menghantarkan pahala walaupun sudah ke alam barzah adalah memiliki anak sholeh...
��Tentu untuk memiliki anak sholeh..apalagi anak yg berilmu dan bermanfaat untuk umat islam adalah melalui jerih payah yang engkau usahakan...
✅Dari mencarikan makanan untuk mereka dari yg halal..
✅Mendidik mereka baik dg usaha kita disaat dia masih bayi sampai umur sekolah...
✅serta memilihkan untuknya sekolah yg bermanfaat untuk akhiratnya.. dan tentu kita akan mendapat bagiannya..
✅Terkadang orang tua sangat menomersatukan masalah dunia.. dan menduakan masalah akhirat... padahal banyak orang kaya dari zaman dahulu hingga sekarang.. kaya bukan karena ijazahnya... lihatlah berapa juta sarjana yg nganggur... berapa ratus lulusan s2 atau s3 tidak sekaya lulusan sd... itulah rizqi Allah dibagikan dg kebijakannya..
✅Maka didiklah ia dg agama yg baik... ✅Rizqi bisa dicari... krn tabiat manusia itu lapar jika tak makan...... tp kalo sudah bodoh agama maka tidak punya keinginan mencari ilmu... apalagi menjadi ahli ilmu... krn sudah merasa tidak butuh... Maukah memiliki anak yg demikian? Fadzakkir fainna dzikro tanfaul mu'minin... Semoga menjadi bahan renungan dalam mendidik anak...

✏ Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى ������������������



Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).
Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh.
Mereka duduk sembari menyimak baik-baik huraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan.
Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau.
Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan?
Bukankah hari-hari ini kita sering mendapatkan penjelasan dari para trainer bahwa agar murid mau memperhatikan apa yang kita ajarkan, kita harus menyampaikan dengan cara yang fun, atraktif dan menggembirakan?
Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal.
Apa itu?
Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya.
Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.
Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan.
Mereka menerimanya.
Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan.
Jadi, bukan langsung menolaknya.
Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan.
Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya.
Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka.
Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan.
Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.
Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan.
Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan sungguh-sungguh menginginkan mereka menjadi baik.
Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua.
Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak.
Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat.
Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.
Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita?
Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:

ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَٰﻔًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮا۟ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮا۟ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).”
(QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut?
Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).
Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.

Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan.
Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan.
Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan.
Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat.
Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.
Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.
17 September 2014
Oleh: Ustd. Mohammad Fauzil Adhim




:: Doa agar dikaruniai keturunan yang shalih ::

Do’a Pertama
===========

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.” (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) [QS. Al Furqon:74]

Doa Kedua
===========

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“ROBBI AWZI’NI AN ASYKURO NI’MATAKALLATI AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY” (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) [QS. Al Ahqof:15]

Doa Ketiga
===========

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, berkata,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN"
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]”.

[QS. Ash Shaffaat: 100]


moga bermanfaat ^^





Alloh SWT berkata dalam QS al-Qalam ayat 4, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti yang luhur“.
Ayat ini menggambarkan bagaimana tingginya akhlaq nabi Muhamad saw, sampai-sampai Alloh SWT menyatakan secara spesifik dalam firman-Nya. Masyarakat dunia, tak terkecuali non-muslim, jika ia memahami kehidupan nabi Muhammad, akan mengakui begitu indahnya islam saat diterjemahkan oleh akhlaq rosululloh. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak orang kafir berbondong-bondong masuk islam.

Dewasa ini, kita sedang dihadapkan dengan musibah besar yang melanda akhlaq masyarakat Indonesia yakni penyebaran video porno artis terkenal. Betapa tidak, hampir semua kalangan dibuat penasaran untuk melihat adegan video porno tersebut. Menyebarnya kasus ini, tentunya memiliki dampak negatif, khususnya kalau dilihat oleh anak kecil yang belum cukup umur.

Orang tua muslim yang jujur kepada Alloh yang di hatinya memiliki energi keimanan, akan merasa takut dan galau kalau anaknya menjadi korban akhlaq bejat tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga membentengi anak dan keluarganya dengan akhlaq islami. Sebagaimana nabi Muhammad mengajarkan akhlaq islam yang mulia dan agung, berikut beberapa kiat yang bisa menjadi acuan dalam membangun akhlaq islami:

#1. Menjadikan Akhlaq Islam Sebagai Prioritas Utama dalam Keseluruhan Aktivitas
Boleh saja kita mendidik dan memiliki cita-cita agar buah hati sukses di bidang tertentu, misalnya menjadi ahli ekonomi, ahli pendidikan, ahli politik, ahli kedokteran dan lain sebagainya. Namun perlu diperhatikan, dari itu semua, akhlaq islam haruslah menjadi prioritas utama yang ditanamkan sejak dini. Jadikanlah al-Quran sebagai pegangan utama untuk menghadirkan akhlaq islam kepada anak-anak.

Jika hal ini diterapkan, niscaya anak memiliki pribadi dengan akhlaq yang mulia. Ia tidak akan menipu, menghancurkan bangsa, mengikuti nafsu, dan menghalalkan sesuatu dengan berbagai cara. Al-quran dalam sejarahnya diturunkan selama 13 tahun, fokus mengajarkan manusia beraqidah dan akhlq yang baik.

#2.  Meyakini  bahwa Akhlaq Islam adalah Permanen Sepanjang Masa.
Akhlaq yang diajarkan Islam bersifat permanen. Ia tidak luntur atau lekang dimakan waktu dan tempat. Saat al-Quran mengajarkan berbuat baik kepada orang tua, maka nilai ini berlaku sepanjang masa. Begitu pula saat al-Quran menyatakan jangan mendekati zina, maka nilai inipun berlaku sepanjang masa.
Saat ini, begitu dahsyatnya propaganda yang bertujuan menggeser nilai-nilai islam, agar jauh dari pemeluknya, misalnya berbuat zina, minuman khamar, dan lain sebagainya. Dengan alasan mengikuti trend, tidak sedikit anak-anak mengikuti budaya yang bertentangan dengan nilai Islam. Kaum Yahudi memerangi umat islam bukanlah menggunakan senjata, namun yang mereka lakukan melalui seonggok wanita dan secangkir minuman keras. Ia akan lebih dahsyat pengaruhnya dibanding bom atom.

#3. Akhlaq Islam Harus Dibina Sejak Kecil Sampai Akhir Hayat

Seorang anak jika melakukan sesuatu yang tidak benar, haruslah diingatkan dan diperbaiki, bukan malah dibiarkan. Rosul mengajarkan akhlaq islam kepada cucu-cucunya sejak masih kecil. Saat makan haruslah menggunakan tangan kanan dan membaca bismilah. Saat mengambil makanan, ambillah makanan yang dekat. Saat cucu nabi mengambil kurma dari kumpulan zakat, Nabi berkata, ” Taruhlah nak, karena bagi kita tidak halal mengambil zakat/shodaqoh”.

#4. Meyakini Akhlaq Islam Bersifat Universal dan Menyeluruh

Akhlaq islam haruslah dilakukan di dalam seluruh aspek kehidupan, dimana dan kapanpun berada. Tidak hanya di mesjid, namun juga saat berada di luar mesjid, misalnya rumah, perusahaan, saat menjadi pemimpin, kepala keluarga, kepala negara, dan lain sebagainya. Jangan hanya sholeh di mesjid, namun di luar mesjid sama saja akhlaqnya dengan orang kafir.

#5. Menjaga dan Memelihara Lingkungan Sekitar

Berhati-hatilah dengan lingkungan dimana anak berada. Jagalah lingkungan anak agar ia dekat dengan nilai-nilai islam. Menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak dari pengaruh lingkungan negatif. Saat anak mengakses internet, berhati-hatilah agar ia tidak terjerembab membuka situs-situs yang merusak moral. Saat anak sudah mengenal lawan jenis, berhati-hatilah dengan pergaulan di luar rumahnya, dan lain sebagainya.


(Narasumber: DR. Ahzami Samiun Jazuli MA.)
Kewajiban shalat bagi seorang Muslim merupakan hukum yang tdk terbantahkan .
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS 4;103)
 lalu kapan seorang muslim mulai mendapat kewajiban shalat ?
dalam hukum syara’ kita mengenal yang namanya “Mukallaf, yakni orang yang  sudah terkena kewajiban menjalankan ajaran agama, pertanyaan selanjutnya kapan waktunya ?
 ketika sudah Baligh itulah jawaban yang umum kita dengar, Baligh ditandai dengan datangnya haid bagi wanita dan bermimpi bersetubuh hingga keluar air mani bagi lelaki, lalu usia berapakah umumnya balig itu ?
Masa baligh selain ditentukan oleh usia juga ditentukan oleh faktor atau keadaan lingkungan sekitar, boleh jadi seorang anak menjadi lebih cepat matang libidonya, berbicara libido di sini karena datangnya haid akibat  gugurnya indung telur yang tidak dibuahi adapun bagi lelaki derasnya arus informasi melalui dunia maya berbarengan dengan apa yang ia lihat dan ia dengar , salah satu contoh mudahnya mengakses situs porno lebih mempercepat seorang anak menjadi dewasa meskipun belum waktunya, tapi secara umum usia baligh antara 10 s/d 12 tahun.
“Hai anakku, dirikanlah shalat (QS 31;17)
Ayat di atas merupakan nasihat Lukman kepada anaknya, dalam bahasa arab kalimat “BUNAYYA, adalah isim Tasghir, maknanya kecil, yang saya maksud, Lukman di sini berbicara dengan anaknya yang masih kecil, karena dari sejak usia dinilah seorang anak harus mulai dibiasakan akrab dengan hal hal yang akan menjadi kewajibannya kelak manakala ia sudah dewasa seperti shalat, hal ini agar anak tersebut tidak lagi merasa terbebani karena perbuatan tersebut sudah menjadi kebiasaannya.
Tidak kalah penting dari itu bagaimana kedua orang tua dapat secara maksimal memberikan suri tauladan bagi anaknya, bahkan kedua orang tua harus mampu membangun kebanggaan bagi si anak terhadap orang tua sebagai figur yang bisa dicontoh, yakni bukan hanya memberi perintah namun juga menjadi pelaksana utama.
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS 61;3)
Mendidik anak dalam usia dini untuk shalat juga dianjurkan oleh Rasulullah
“didiklah anakmu shalat pada umur 7 tahun dan pukullah manakala umur 10 tahun belum shalat (al-hadits)
Perintah pukul bekan berarti menyakiti karena pukul bisa bermakna pukulan yang sifatnya edukatif atau memberi pelajaran, atau boleh juga berupa pukulan fisik kalau memang dengan hal itu seorang anak baru mau melaksanakan shalat, lalu setelah itu tentunya tidak berhenti sekedar menerapkan kewajiban shalat, melainkan di paparkan hikmah dan keutamaan shalat hingga seorang anak menjadi senang bahkan cinta terhadap shalat.
Shalat adalah amal yang dengannya amal kita akan diperhitungkan kelak baik ataupun buruknya, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah
“Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat, bila baik shalatnya maka baik pulalah seluruh amalnya, dan bila rusak shalatnya maka rusak pulalah seluruh amalnya (al-Hadits)
Shalat yang baik bukan hanya dilihat dari teknis maupun waktu ditunaikannya , namun juga dapat terlihat dari prilaku dan bicara pelaksananya, karena shalat mempunyai pengaruh terhadap dua hal tersebut.
“dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 29;45).
Wallau a’lam bissawab.




Ngaji sekedar iseng ..

Diposting oleh Unknown | 22.04 | | 1 komentar »

Seorang ibu datang bersama seorang putrinya yang baru lulus SLTP ke pengajian suamiku, maksudnya tak lain untuk mendaftarkan putrinya mengaji, ibu itu memberi penjelasan bahwa putrinya agak susah di atur mungkin karena pengaruh lingkungan dan teman-temannya baik di sekolah maupun tetangganya.

Ibu tersebut menyerahkan putrinya untuk di didik dengan pendidikan agama, sebagai bekal akhiratnya, sungguh mulia niat sang ibu, dengan seksama dan sabar suamiku mendegar keluh kesahnya dalam mendidik sang anak, namun pada kali penjelasan yang terakhir ada raut kecewa dari muka suamiku yang berusaha ditutup dengan senyumnya.

Apa yang membuat beliau kecewa ,.. ternyata sang ibu menitipkan anaknya hanya sementara waktu sambil menunggu mendapat kerja, karena untuk melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya (SLTA) biayanya tidak terjangkau, intinya mengajinya sang putri tak lebih dari sekedar mengisi waktu luang sebelum mendapat kerja yang mungkin tidak akan lama lagi, karena di daerahku mayoritas bekerja pada pabrik garmen atau KBN (kawasan Berikat Nusantara) dan bagi kaum ahkwat tidak sulit untuk dapat bekerja di sana apalagi banyak koneksi (orang dekat) yang menjadi pengawas.

Sebenarnya bukan “sementaranya yang membuat suamiku kecewa.. tapi kegiatan mengajinya yang hanya sebatas pengisi waktu luang, ini sama saja mengaji tidak lebih penting dari mencari kerja, yakni setelah kerja yang dicari di dapat, maka otomatis mengajinya menjadi berhenti, tidak jelek memang, tapi apakah senaif itu kita meletakkan posisi menuntut ilmu agama dengan bekerja.

Bekerja memang penting apalagi untuk membantu perekonomian sebuah keluarga, atau setidaknya menambah inkam/pendapatan demi masa depannya, dan hal itu juga bernilai ibadah manakala kita menempatkannya pada posisi yang sebenarnya, namun akan lebih baik manakala kita memadukannya dengan sambil menuntut ilmu, tapi secara umum saat seseorang baru mulai bekerja dan mendapat gaji pertama, lalu gaji ke dua di tambah lembur tentu semakin besar, maka secara naluri fitrah manusia yang senang kepada ke indahan dan berlimpahnya harta, menjadi semakin lupa akan pentingnya menambah ilmu agama, waktu yang seharusnya setelah ia pulang kerja ia gunakan untuk tetap mengaji ia alihkan untuk menambah jam kerja atau lembur,..
Sebagai orang tua, memberikan pendidikan agama yang cukup kepada buah hati adalah merupakan kewajiban, tak inginkah orang tua mendengar alunan merdu suara buah hatinya yang membacakan yasin atau menuntunkan kalimat Tauhid saat menjelang ajal.

Anak adalah harta akherat bagi orang tua, yakni anak yang menjadi shaleh berkat usaha gigihnya selama dalam naungannya, tapi juga menjadi petaka akherat manakala kita tidak mengarahkan pada jalan yang diridhai Allah.

Semoga teguran Allah di bawah ini menjadi peringatan yang kuat untuk kita segera sadar, bahwa “anak adalah titipan Allah.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS 4;9)

wallu a’lam bissawab..
Bila ditanya kapan seorang anakmulah belajar al-Qur,an ? jawabnya mudah, sedini mungkin !!saat lidah sekecil mulai fasih mengucapkan sebuah huruf (kata). Tapi kalau di tanya kapan berhentinya ? jika sekolah mungkin ada jenjang kelasnya SD 1 s/d 6 SMP / SMA 1 s/d 3 baik ibtidaiyah, tsanawiyah maupun aliyah sampai perguruan tinggi juga ada batasnya,. Lalu kalau mengaji adakah batasnya ?


Batas mengaji bila yang diinginkan hanya bisa membaca berarti selesai setelah melalui jenjang Iqra 1 s/d tammat lalu masuk al-qur,an.

Batas mengaji bila yang di inginkan bisa fasih dalam makhraj maupun mad dan qashar maka tammat setelah belajar tajwid .

Batas mengaji bila yang di inginkan bisa menulis maka tammat setelah belajar Khot.

Batas mengaji bila yang di inginkan mampu menerjemah maka selesai setelah belajar nahwu dan shorrof dgn balaghahnya ,setidaknya e’nayah.

Namun bila yang di inginkan orang tua lebih dari itu , yakni sang anak mampu menerapkan apa yang dikajinya agar mempunyai nilai plus di mata masyarakat sebagaimana layaknya seorang santri maka tak dikenal batas akhir dalam mengaji, itulah sebabnya seorang ulama mengatakan.

Ana athlubul ‘elma minal mahdi ilal lahdi (aku menuntut ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat)

Tapi anehnya, nilai lebih yang di tuntut seorang wali santri yang harus di dapat dari sang anak dari gurunya sangat bertolak belakang dari harapannya, tak ada motivasi, tak ada ancaman saat sang anak mulai bolos dan malas untuk mengaji, usaha maksimalnya tak lebih dari mengurut dada saat sang anak mulai melawan dan kalaupun mengancam hanya sebatas di lisan, atau boleh di bilang orang tua mengangkat bendera putih, alias menyerah kalah tanpa syarat terhadap kenakalan sang anak.

Kasih sayangnya di wujudkan dalam bentuk membiarkan anaknya larut dalam dunianya sendiri, dengan sebuah argumentasi “biarlah menikmati masa kanak-kanak dan remajanya , naudzu billah padahal mereka menikmati masa kanak-kanak dan remajanya tidak seperti orang tuanya dahulu , di mana lingkungan dan pergaulannya dan pada masa dahulu, masih sehat jauh dari pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh gencarnya arus informasi buruk,merusak dan menyesatkan.

Orang tua sudah merasa cukup, (walaupun tidak jelek),. Saat sang anak bersama teman sebayanya yang mulai beranjakmenjadi remaja dewasa, ikut yasinan setiap malam jum,at ,. Yasinan !.. yah hanya itu.. dari jum,at ke jum,at berikutnya, setelah selesai mereka semua pulang,. Tanpa bahasan, tanpa uraian, tanpa ada materi tarbiyah yang di bahas, tentunya tak perlu ada tanya jawab, apalagi ujian karena tak ada target dalam acara ritual tersebut yang harus di capai.. karena pengajian tak perlu ada kurikulum !“katanya,. Apa mungkin ucapan Sayyidina Ali salah

Al-haqku bila nidzam , yughlibul bathilu bin nidzam (kebaikan yang tak terorganisir, akan dikalahkan kebatilan yang terorganisir)

Saat waktu terus bergulir,. Rasa bosan mulai menghinggapi anggota majelis taklim , jenuh , bosan karena acaranya dari jum,at ke jum,at hanya itu dan itu ,Bahkan juga sang ustad dan ketua majelis Taklim tak luput dari virus bosan dan BT (kata remaja sekarang,)..ada apa ini,. Apakah sebagai bertanda kiamat semakin dekat ? dengan mulai bosannya orang mengaji ?

Jawabannya ada pada diri anda sendiri,. Sebagai orang tua, atau setidaknya calon orang tua.
Tak dapat dipungkiri, memberikan pendidikan yang baik bagi anak, untuk membentuk anak yang shaleh atau shaleha merupakan kewajiban mutlak bagi orang tua, bahkan Rasulullah mengingatkan ada 3 hal yang harus diperhatikan dan menjadi kewajiban orang tua,


1. Memberikan nama yang baik
2. Memberikan pendidikan
3. Menikahkan

Dalam Islam begitu pentingnya membentuk anak yang shaleh sebagai generasi masa depan , sampai tehnisnya sebegitu jauh, yakni mulai dari mencarikan ibu atau ayah untuk anak anak kita karena rumah tanggalah kelak sebagai madrasahnya pertamanya, sebagai tempat mukimnya, orang tuanyalah guru pembimbingnya, baik dalam segi ARKAN (tingkah laku) sebagai contoh, maupun frivatnya yang berupa tausiah bukan hanya ibu atau ayah yg baik namun juga sangat diperlukan orang tua yang berpendidikan dan berwawasan, agar kelak menjadi kebanggan tersendiri dari anak-anaknya, “ bukankah singa hanya akan lahir dari singa ‘ kita banyak mengetahui orang orang besar, ulama ulama besar, mereka besar dalam bembingan orang tuanya.

Namun bila hal itu tidak tercapai ,yakni mencari calon ibu ayah ayah yang baik bukan lastas kita pasrah kepada ketentuan takdir, melainkan adanya ikhtiar sebagai bentuk tanggung jawab orang tua , yakni mencarikan pembimbing yang akan menghantarkan anak tersebut pada gerbang kebahagiaan dunia dan akherat.


9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.
Ayat di atas merupakan argumentasi yang sangat kuat untuk orang tua agar tidak meninggalkan keturunannya dalam keadaan lemah,kalimat DI’AFAN yang dalam bentuk Nakirah atau umum merupakan indikasi bahwa seorang anak kelak tidak boleh lemah dalam berbagai hal, lemah secara spiritual , lemah secara Economi, lemah secara intlektual dan kelemahan yang lain yang pada gilirannya anak tersebut akan digilas oleh waktu dan persaingan hidup.

Sebuah pengalaman cukup menarik yang dialami oleh penulis ketika menguji sejauh mana keperdulian para orang tua terhadap pendidikan mengaji ank anaknya, yakni dengan cara :” harus mendaftar ulang bagi yang ingin mengaji kembali (hal ini dilakukan karena suatu sebab) namun ternya banyak orang tua yang mensikapinya negatif’ yakni merasa direpotkan ‘ lebih parahnya lagi melecehkan lembaga pengajian yang sok seperti pendidikan formal, masya Allah” dan pada gilirannya , anak yang menjadi korban, sedangkan di lain pihak , ada orang tua yang bertanya dulu pada anaknya apakah mau ngaji lagi atau tidak, padahal pengaruh lingkungan di sekitar lembaga pengajian sangat tidak kundusif, yang boleh dikata telah tersetruktur secara otomatis yang membuat anak merasa enggan untuk mengaji.

Dari sedikit uraian dan pengalaman di atas cukuplah jelas bagaimana tanggung jawab dan sikap orang tua yang terjadi sekarang, sebagus dan seprofesional apapun sebuah lembaga tanpa melibatkan peran orang tua sebagai motorik pertama bagi anak , maka lembaga pendidikan tersebut tidak akan bisa berbuat banyak.