pos giv

IKhlas = Gratis ?

Diposting oleh Unknown | 18.11 | | 0 komentar »
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. (QS 4;9)

Terjemah ayat di atas selalu mengingatkan saya pada taklim-taklim yang di ikuti ibu-ibu binaan suamiku ketika ada hal yang berkaitan dengan masalah anak, tepat memang, karena inilah yang menjadi fokus perhatian ibu dalam kaitannya terhadap kewajiban mereka untuk keluarga terutama anak.

Rasulullah pernah bersabda “ Didiklah anakmu, karena mereka bukan hidup di jamanmu (melainkan akan datang ) (al-hadfits)

Apa yang disampaikan yang mulia ini bukan berarti anak kita sekarang mati, akan tetapi hidup mereka yang sebenarnya adalah ketika mereka kelak dewasa, saat sudah lepas dari bimbingan dan perlindungan kita, menjadi diri mereka yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri bahkan keluarganya manakala telah berkeluarga, dimana tantangan kehidupan  dan problem pada saat itu jauh lebih berat dan kompleks dari kita, dan di saat itu mungkin kita sudah meninggalkan mereka.
Ada tiga hal menjadi kewajiban orang tua terhadap anaknya

Pertama : Memberikan nama yang baik
Kedua : memberikan pendidikan yang layak
Ke tiga : Menikahkan

Nama yang baik adalah yang mengandung nilai kehambaan atau mengandung nilai harapan atau do’a oleh karena itulah kita dilarang menamai anak kita dengan nama orang-orang kafir.

Adapun pendidikan tentulah pendidikan yang standarisasinya dapat kita nilai dari situasi yang berkembang saat itu dan masa yang akan datang namun tentunya tidak boleh lepas dari nilai moral sebagai seorang Muslim atau Mukmin, dalam ayat di atas kalimat “ LEMAH (dalam tex arabnya disebut isim/kata benda Nakirah, yakni bermakna umum) mempunyai beberapa maksud (menurut saya) boleh jadi lemah secara spiritual, intelektual ,emosional bahkan  lemah ekonominya, hal itu tidak lepas dari bagaimana kita memberikan pendidikan yang baik dan benar, yakni baik sesuai dengan kebutuhan masa depan mereka dan benar secara syar’e (Islam).

Dan dalam hal inilah selaku orangtua, kita banyak yang merasa cukup dengan menyerahkan pada orang lain atau lembaga baik formal semacam sekolah atau non formal semacam pengajian, padahal dukungan dari orang tua baik secara moral dengan memberikan motivasi terhadap anak maupun material yang menjadi kebutuhan dimana lembaga anak kita dititipkan juga tidak kalah penting, kita sering mendengar ada orang tua yang ekonominya cukup menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan non Muslim yang bergengsi sambil di iringi ungkapan “biar mahal  yang  penting kan kualitasnya, padahal dari ungkapan tersebutlah , seharusnya timbul pertanyaan Retorik , kenapa bisa bagus kualitasnya ? jawabannya karena kita berani bayar mahal, dari bayaran itulah fasilitas bisa di beli, guru yang berpengalaman bisa di gaji mahal hingga bisa fokus dengan tugasnya, tak perlu lagi seorang guru mencari nafkah sambilan, bahkan gedung yang megah dengan ruangan ber AC dapat terbangun.

Ikhlas sama dengan tidak perlu di bayar , itulah perspective atau cara pandang sebagian orang tua kita, hal ini tidak lepas (mungkin menurut saya) dari faktor pendidikan mereka (maaf) hingga penghargaan mereka terhadap pendidikan terasa sangat kurang, hal inilah yang sering dirasakan suamiku saat pengajian membutuhkan sarana dan prasarana sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar mengaji, hingga tak jarang harus mengeluarkan dana sendiri, yang boleh jadi akan mengikis rasa keikhlasan dalam mengajar, bisa dimaklumi beliau dalam kondisi capek bagaimanapun tidak pernah meliburkan santri-santrinya.

Sabtu pagi 25 pebruari 2012, ada kabar baik dari si Aby saat mengikuti rapat orang tua murid kelas 6 disekolah buah hatiku yang pertama, yakni Faiz anak pertamaku mendapat nilai terbaik dari dua kelas A & B yakni di atas rata-rata atau 8, (koma), meskipun baru nilai TRYOUT  atau nilai ujian latihan untuk UN/ujian nasional, namun ini cukup menunjukkan keseriusan dan usaha yang tidak main-main dari tim guru di bawah koordinasi kepala sekolah untuk kelulusan dari murid-muridnya, yang bekerja sama dengan penerbit, pihak terkait dan pihak sekolah, yang mana kegiatan tersebut tentulah menyedot banyak biaya dari dana bos, bahkan boleh jadi sebagian besarnya untuk kegiatan kelas 6.

Namun sekali lagi tidak banyak orang tua  yang pro aktif untuk hal tersebut,  yang terkesan bahkan rasa kecewa karena nilai yang tidak memuaskan padahal baru latihan yang anak saya pun belum tentu saat ujian yang sebenarnya sebagus saat tryout.

Lewat artikel ini saya sekeluarga berterima kasih terhadap pihak sekolah SDSN 02 pagi yang telah berupaya memberikan yang terbaik untuk anak didiknya terkhusus untuk kepala sekolah dan wali kelas 6 B , sebagai orang tua tidak ada yang dapat kami berikan selain ucapan terima kasih dan seuntai doa semoga  usaha ibu bernilai ibadah yang mendapat ridha di sisinNya amin...


Rasa malu

Diposting oleh Unknown | 00.13 | | 0 komentar »

فجاءته إحداهما تمشي على استحياء
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu, (QS 28;25)

Ayat di atas merupakan potongan dari kisah nabi Musa ketika bertemu dengan anak-anak perempuan nabi Syu’aib pada saat mengantri di sebuah sumur, ada bagian yang menarik bila kita teliti secara jeli bagian ayat tersebut, yakni “berjalan dengan rasa malu, yah ! itulah yang langka dimiliki wanita sekarang, bahkan dalam kisah tersebut saat nabi Musa di ajak untuk bertemu dengan ayah kedua wanita itu (nabi Sua’ib) karena telah membantunya mengambilkan air, dikisahkan keduanya berjalan di belakang nabi Musa hal ini dilakukan keduanya karena kwartir bila mereka berjalan di depan nabi Musa akan menimbulkan fitnah  semisal bila ada angin nakal yang menerbangkan bagian bawah pakaiannya.

Dalam sebuah pribahasa di katakan,

Andai saja tidak ada rasa malu yang menutupi kaum wanita maka sungguh harga dirinya tak lebih dari segenggam debu.

Rasa malu memang bukan hanya diperuntukkan bagi kaum hawa namun akan lebih pas bila dimiliki kaum hawa, bukan hanya itu sebuah hadits  dari yang mulia juga mengatakan

الحياء من الايمان

“malu adalah bagian dari iman (al hadits)

Ini artinya iman dan rasa malu tak bisa dipisahkan ibarat madu dengan manisnya, atau dua sisi mata uang, yakni bila hilang salah satunya maka akan hilang atau tak bernilai yang lainnya .

Saat sekarang bertapa jauh perasaan malu itu dimiliki oleh seorang wanita, membuka aurat dalam arti yang sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang memalukan menurut mereka bahkan, bila tidak berlebihan bisa di bilang suatu kebanggaan , naudzu billah.......

Seperti ada perasaan bangga bagi seorang wanita memamerkan kemolekan tubuhnya di depan lawan jenis yang bukan muhrimnya, mereka senang kalau bisa membuat lawan jenisnya tertarik karena kemolekannya,. Padahal hal tersebut memancing kedzaliman yang akan terjadi pada diri mereka sendiri atau setidaknya kaumnya.

Bila kita mau membaca cukuplah hadits nabi di bawah ini menjadikan bulu kuduk kita merinding, itu pun bila kita masih punya iman untuk menelaahnya.

“seorang wanita yang berjalan melenggak lenggokkan tubuhnya seperti ekor unta, agar dapat menarik lawan jenisnya, jangankan surga baunya saja tidak akan ia dapati, padahal bau surga dapat tercium sejauh jarak perjalanan 70 tahun berkuda (al-Hadits)
Wallahu a’lam bissawab.

Bersikap adil dalam syukur

Diposting oleh Unknown | 00.15 | | 0 komentar »
و أما بنعمة ربك فحدث
11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.
Dalam ayat di atas kita diperintah agar nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita hendaklah kita ceriterakan, sebagai wujud syukur atas karunianya.
Namun bagaimana kalau kita menyebutkan suatu nikmat yang berupa rizeki berlimpah yang kita dapat di sisi teman kita yang sedang dilanda kesulitan rizeki, dalam hal ini tentulah bukan pada tempatnya,  atau tidak adil karena yang terjadi saat itu adalah pamer atau riya meskipun di iringi ucapan syukur karena yang timbul setelah itu adalah kecemburuan sosial akibat kesenjangan yang tanpa sengaja telah kita tampakkan atau kita ciptakan.
Hal seperti ini mengingatkan saya saat menunggu buah hati di rumah sakit yang baru lahir prematur, betapa menyedihkan saat usianya yang baru berbilang hari harus bertaruh nyawa di dalam inkubator di ruang Nicu di depan mata terlebih di saat-saat akhirnya, tapi tak jauh dari situ ada beberapa orang yang bersorak gembira karena buah hatinya lahir tepat waktu, sehat dan lincah, betapa menyedihkan sorak sorai gembira saat itu meskipun itu adalah haknya di saat saya sedang dilanda susah.
Harus Adil ... itulah ungkapan atau sikap  yang tepat saat kita ingin mengungkapkan perasaan gembira, perhatikan kapan dan dimananya, benarlah apa yang di sampaikan Rasulullah dalam sebuah haditsnya
“Tidaklah selayaknya seorang Mukmin menunjukkan perasaan gembiranya di saat saudaranya sedang di landa kesusahan (al-Hadits)
Apa yang disampaikan yang mulia bukanlah melarang kita mengungkapkan rasa syukur, namun menjaga perasaan hati saudara kita yang sedang sedih adalah merupakan sikap bijak penuh empati.
Adapun bila hal itu menimpa kita juga bukan pada tempatnya kita merasa cemburu atas nikmat yang di dapat saudara kita, sebab tak ada Nikmat atau musibah yang menimpa melainkan semua dalam takdir Allah.
Dan Saat kita melihat kawan atau saudara yang berhasil, ketahuilah keberhasilan itu adalah puncak dari berbagai usaha yang boleh jadi diawali dengan berkali-kali kegagalan.
Maka... bagi anda yang ingin mengungkapkan syukur ungkapkan pada tempatnya.
Dan bagi anda yang punya rasa cemburu sosial yang tinggi, berdoalah agar kesuksesan kawan kita juga diberikan kepada kita...




Jaminan Rasululah

Diposting oleh Unknown | 16.53 | | 1 komentar »
من تكفل لى بما بين لحييه ورجليه أتكفل بالجنة

Barang siapa yang menjamin apa-apa yang di antara dua janggutnya (lisannya) dan diantara dua kakinya kemaluan, maka aku menjaminnya dengan surga al-hadits

Ada dua syarat yang menjadi jaminan baginda Rasulullah , yang bila kita mampu memenuhi dua syarat tersebut beliau menjamin dengan surga. Sangat sederhana syarat tersebut yang diajukan Rasulullah kepada para sahabatnya umumnya kepada kita selaku ummatnya.

Bagi para sahabat yang hidup langsung di bawah bimbingan Rasulullah sangat sederhana syarat tersebut, karisma dan wibawa Rasulullah sebagai hamba yang dibesarkan dalam bimbingan wahyu, secara psikologis lebih dari mampu untuk mengarahkan para sahabat kepada sesuatu yang di inginkan Allah dan rasul-Nya, ditambah lagi tempaan batin yang kontinu dari Rasulullah telah mendongkrak loyalitas ke Imanan dan ke Islaman para sahabat , sehingga seberat apapun sebuah perintah dan larangan bukanlah sesuatu beban bagi mereka.

Namun bagaimana dengan kondisi kita sekarang sesederhana itukah makna dari hadits tersebut, suatu ketika Rasulullah berbicara dengan para sahabat, Rasulullah  bersabda

“Tahukah kalian di antara ummatku yang terbaik ? para sahabat menjawab , “ mereka ya rasul ! adalah para sahabat terkemuka yang hidup sezaman dengan Engkau mereka menyertai dan berjihad bersamamu. Nabi menjawab “bukan ! ummatku yang terbaik adalah yang hidup belakangan setelah kalian, mereka jauh dari bimbinganku namun teguh memegang sunnahku.

Bukan tanpa sebab nilai plus yang diberikan Rasulullah atas ummatnya yang hidup di kemudian hari, lantaran tantangan dan kondisi lingkungankah yang membuat ummatnya mempunyai nilai lebih dari para sahabat yang hidup dan mendapat bimbingan langsung dari Rasulullah 

Menjaga lisan bukanlah perkara sederhana di jaman sekarang, di mana banyak bicara seakan sudah menjadi hal penting dan kebutuhan bahkan gaya hidup lebih rusaknya lagi ghaibah/ghosif sudah menjadi bagian dari mata pencaharian, seperti acara info taimen yang telah diharamkan oleh NU, bahkan bertambah rusak lagi manakala sang korban merasa di untungkan lantaran dapat mendongkrak popularitasnya , karena ghibah yang tertuju pada dirinya seakan menjadi iklan gratis.

Bila hal demikian yang terjadi maka seakan tak ada lagi sekat yang membedakan mana ghibah dan sanjungan bahkan dengan fitnah pun perbedaannya semakin kabur, yang kita tahu saat seseorang dibicarakan aibnya bila itu benar maka itu adalah ghibah bila salah akan menjadi fitnah.

Benarlah apa yang disabdakan baginda rasul “

سلامة الانسان لحفظا للسان

Selamatlah manusia bila mampu menjaga lidahnya.

Begitu pentingnya menjaga lisan sampai seorang ulama besar pada masa tabi’et tabi’en merasa gundah ketika di tanya saat akan ke Masjid , “hendak ke mana wahai syeh ?, sang ulama merasa gundah , bagaimana ini bila aku jawab ke masjid ini berarti ria bila bukan berarti aku bohong

Jaminan ke dua adalah menjaga kemaluan, kemaluan menjadi luas maknanya kini, bukan sekedar apa yang terdapat di antara dua kaki melainkan bermakna harga diri dan kehormatan, yang bila kita lalai dalam menjaganya akan menjadi hancur martabat dan kehormatan bukan hanya bagi pelakunya namun juga bagi keluarga dan orang-orang dekatnya.

Jodoh

Diposting oleh Unknown | 00.28 | | 1 komentar »
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS 30;21)

Ayat tersebut seakan tak pernah lepas dari setiap undangan walimatusy Shafar, bahkan seolah selembar undangan belumlah lengkap tanpa ayat tersebut, begitu pun undangan yang aku terima dari salah seorang santriwati yang akan melangsungkan akadnya.

Saat membaca ayat tersebut teringat akan materi taklim yang pernah disampaikan oleh suamiku, 

Jodoh merupakan ayat atau  tanda-tanda kebesaran Allah, betapa tidak jodoh adalah sesuatu yang menjadi rahasia Allah, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita, sebuah ungkapan bijak mengatakan “garam di laut asam di gunung bertemu dalam satu belanga,. .saat aku mulai mengenal laki-laki dalam arti kata sebagai teman hidup tak pernah terlintas akan bersuamikan suamiku yang sekarang, kecuali yang aku inginkan seorang suami yang bisa membimbingku mencintai Allah menjadi Imam dalam keluarga mampu mendidik anak-anakku menjadi anak yang shaleh dan shaleha. Bagaimana mungkin aku yang orang Jawa/solo berjodoh dengan suamiku yang orang Madura, kalaulah bukan karena semua dalam skenario agung dari yang serba Maha.

Allah menjadikan pasangan hidup kita agar kita dapat tenang atau teteram, kalimat تسكن maknanya adalah tenang yang asalnya bergejolak, mungkin itulah gejolak saat perasaan cinta baru melanda , saat ingin perasaan di hati ingin selalu bersama, saat perasaan Cinta menyiksa di mana dekatnya takut berpisah, jauhnya pun menyiksa karena menahan rasa rindu, sedangkan untuk bersama terhalang oleh larangan syareah, namun saat Ijab dan Qabul telah terlaksana menjadi halallah semua kehendak, tenteramlah perasaan hati tak ada lagi perasaan takut berpisah karena keduanya telah terikat dengan hak dan kewajiban.

Saat awal pernyataan perasaan cinta kepada si dia semua kata dan prilaku menjadi semu, semua dibungkus se indah mungkin agar nampak terlihat dan terdengar memikat, ringkasnya kedua calon dan sepasang sejoli begitu pandai menyembunyikan kekurangan masing-masing, ini karena cinta, karena tak ingin si dia beralih kepada yang lain, hal itu bahkan terus berlanjut sampai melewati jenjang pernikahan , bahkan melewati bulan juga tahun.. hingga ada riak-riak kecil yang lumrah dalam perjalanan sebuah rumah tangga, maka mulai nampaklah sifat-sifat aslinya saat itulah diperlukan adanya “MAWADDAH , yang maknanya kasih atau rela memberi, rela menutupi kekurangan teman hidup sebagai wujud cinta, karena bukankah salah satu hakikat cinta adalah saling melengkapi, tidak ada manusia sempurna , istri, suami semua ada nilai minus dan plusnya, seorang sahabat mengatakan 

“ saat kamu melihat hal yang kurang dari pasangan hidupmu, lihatlah betapa banyak pada sisi yang lain kelebihannya.

Seorang ulama kondang mengatakan 

“ saat kita gundah karena kelakuan pasangan kita, lihatlah saat ia tertidur lelah, bisikkan dalam hati kita “ wahai yang telah menjadi teman hidupku , kau adalah teman dalam suka maupun duka, kau melayaniku tanpa kenal letih, kau korbankan separuh hidupmu, kau tinggalkan orang-orang yang kau cintai demi aku, hingga kini kau letih, lelah tertidur, sementara aku dengan begitu mudah mencelamu.

Hingga pada saat kecantikan dan ketampanan mulai memudar, bahu, kaki dan tangan tak sekekar waktu muda, saat ma’esyah (nafkah) tak lagi mudah dicari , mulai sedikit dan terbagi karena adanya buah hati di saat itulah kita butuh adanya “RACHMAT, yang maknanya sayang, karena saat usia seperti itu sudah tak perlu lagi ungkapan cinta melalui lisan , tapi harus lebih banyak terwujud pada perhatian dan saling memaklumi, itulah sayang yang sesungguhnya.

Maha suci Allah dengan ayat-Nya hanya dengan satu ayat saja bila kita amalkan sebuah biduk rumah tangga dapat tenteram hingga akhir hayat, apalagi bila kita menjalaninya dengan menapaki syareatnya atau menjadikan aturan Islam sebagai pondasi bahkan konsep dalam rumah tangga.

Wajarlah kalau pada akhir ayatnya Alah menutup dengan .

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Wallahu a’lam bissawab.



Disaat wanita telah memasuki gerbang pernikahan, maka Allah akan menyediakan kesempatan bagi kita, untuk menjadi pribadi yang indah, bahkan jauh sangat lebih indah.

Dan sungguh, menjadi istri adalah sebuah keindahan yang tidak semua orang akan merasakan kesemua itu. Dan keindahan itu akan terasa sangat lebih indah saat kita dapat dari dalam hati menyadari dan ikhlas karena Allah tentang sebuah melayani
.
Lihatlah betapa indahnya dirimu dengan melayani, senyummu tampak sumringah karena ingin seseorang yang kau layani akan merasa terdamaikan oleh keadaan karena adanya dirimu. Walau dalam bagaimanapun adanya keadaanmu sendiri.

Lihatlah betapa damai dirimu dengan melayani. Kau berikan jatah pikiran dan luasnya dadamu yang memang kadang sudah terasa sesak, demi kebahagiaan suami yang kau layani. Mengerti bahkan saat beliau tidak mngerti keadaan beliau sendiri, mendengarkan keluh kesah beliau, merangkul semua kondisi kacau balaunya beliau lengkap dengan semua kenegatifan sikap yang saat itu ditampilkan kepadamu. Manusia ajaib mana yang akan dapat begitu memaklumi keadaan dengan tetap tenang, selain seseorang yang memang tahu arti dari melayani dan meniatkan semua karena Allah?

Lihatlah betapa teduhnya dirimu dengan melayani. Dalam keadaan yang sudah tidak memungkinkan bagi batin sabarmu untuk bisa bersabar lagi, kau masih berusaha mengkontrol  semua kemanusiawianmu sebagai wanita kebanyakan yang menangis, memaki, manja pada keadaan dan lain sebagainya. Kesemua karena kesadaranmu untuk tidak ingin memberatkan hati suami yang kau layani.

Lihatlah betapa cantiknya dirimu dengan melayani, kau tampilkan dirimu begitu elegan didepan suamimu, karena perasaan yang tak ingin mengecewakan beliau karena acak- acakannya dirimu.
Lihatlah betapa lembut dirimu dalam balutan kata- kata yang indah, serta nada bicara yang santun saat melayani. Siapa di dunia ini yang tidak punya potensi untuk berteriak dan berlaku kasar? namun dengan kesadaran melayani, maka pilihanmu pun jatuh untuk bersikap sebaliknya demi kedamaian yang kau layani. Bukan sia- sia pada akhirnya, yakinlah bahwa titik akhir dari semua itu, adalah paling tidak keadaan yang akan berbalik melayani dan memuliakan dirimu. Di dunia ini, dimana sih manusia yang tidak suka dimengerti oleh orang lain, apalagi jika manusia tersebut adalah suami kita sendiri?

Lihatlah betapa telah menjadi sabar dirimu saat melayani, teredamlah kemarahanmu karena kesadaran atas diri bahwa melayani itu indah. Indah dalam membahagiakan orang lain, dan bahkan indah dalam mengindahkan dirimu untuk terlalu jauh dalam berdekatan dengan emosi. Keluh kesah memang kadang ada, namun tidak bertengger terlalu lama dan terhapuskan dengan keindahan kesadaran bahwa pada saat tersebut, Allah ridho terhadap kita. disudut lain dari hati, diri diam-diam berdoa bahwa semoga Allah menghapus dosa- dosa kita lewat kesakitan tersebut.

Lihatlah betapa dengan melayani, kau telah memberikan pelajaran berharga kepada para suami untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pelayananmu, maka akan tersibukkan hari- harinya untuk bersyukur kepada Allah atas karunia keindahan sepertimu.

Subhanallah, betapa keajaiban dari kesadaran sebuah melayani, malah akan menjadikan diri kita mulia, bahkan lebih mulia dan terperbaiki. Dengan melayani kau menjadikan dirimu pantas untuk disayangi dan bahkan tidak terlalu pantas untuk disakiti. Dan bahkan semua manusia pasti hanya mempunyai satu hati untuk menyayangi, tidak lebih. dengan melayani kau menjadikan dirimu muara bagi suamimu, manusia tempatnya merasa kembali kerumah, untuk bisa merasa santai dan terdamaikan.

Melayani bukan menjadikan dirimu korban dan pihak yang selalu terkalahkan. Dengan melayani justru kau mengindahkan dirimu, dan menampilkan keadaanmu yang mungkin bakat itu tidak pernah kau sadari, bahwa kau bisa menjadi seindah itu. Benar- benar sebuah pendidikan diri yang sangat elegan dan berkelas.
Dan memanglah benar- benar indah jika sebuah pernikahan yang benar- benar ditujukan karena ingin beribadah kepada Allah. Sungguh benar ternyata bahwa dunia ini memang indah, dan seindah- indah perhiasan dunia adalah Wanita yang sholihah. Allah menjadikan kita indah dengan menjadi seorang istri, dan akhir dari sebuah niat adalah tergantung diri kita bagaimana menjadikan konsep keindahan itu untuk benar- benar menjadi indah. InsyaAllah...

(Syahidah/Voa-islam.com)